Home / Beritakini / KKN Unram di Wajageseng Kopang, Partisipasi dalam Program SLP

KKN Unram di Wajageseng Kopang, Partisipasi dalam Program SLP

BERITAKINI talentafmnews.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pariwisata dan Lingkungan Universitas Mataram (Unram) di Desa Wajageseng, Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), ikut serta dalam program Sekolah Lapang Petani (SLP) yang dilaksanakan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Tengah.

Deny, selaku ketua kelompok KKN menjelaskan partisipasi mahasiswa KKN Tematik Unram tersebut berawal ketika pertemuan yag tidak disengaja dengan ketua kelompok tani Dusun Wajageseng.

“Awalnya hanya sekadar basa basi perkenalan sampai akhirnya ada keterkaitan antara program KKN kami dengan program SLP tersebut, sehingga kami menawarkan diri untuk ikut serta sebagai pemateri dalam penyuluhan pupuk organik cair,” katanya, Selasa (13/07) kemarin.

Ia juga mengungkapkan alasan mereka memilih pupuk organik cair sebagai materi yang disampaikan.

“Hal ini berawal dari keresahan kami atas isu-isu seperti pemanasan global, dampak lingkungan dan masalah tanah yang diakibatkan oleh pupuk kimia, sehingga kami berharap bisa mengubah lingkungan menjadi lebih baik,” ungkapnya.

Selain itu, menurutnya, POC juga merupakan sebuah teknologi yang gampang untuk diterapkan oleh masyarakat awam.

“Ini juga menjadi langkah awal para petani untuk mau menerima dan mencari tahu banyak teknologi di bidang pertanian. Sehingga para petani di masa depan tidak ketergantungan produk kimiawi,” ucap pria asal Loteng tersebut.

Sementara itu, Ia juga berharap dengan adanya penyuluhan ini para petani menjadi sadar dan aktif dengan banyaknya teknologi terapan di bidang pertanian.

“Dikutip dari artikel CNBC tahun 2019 bahwa 10-20 tahun ke depan Indonesia akan mengalami krisis petani, di mana anak muda saat ini lebih cenderung di perusahaan, manufakturing dan industri lainnya,” tandasnya.

Kegiatan SLP tersebut diketahui telah dilaksanakan sejak tahun 2020 lalu dan akan digelar selama 12 kali pertemuan. Paozi, selaku Ketua Kelompok Tani menjelaskan materi yang didapatkan selama pertemuan Sekolah Lapang tersebut salah satunya tentang pengolahan tanah.

“Sebelum bertani kita harus olah tanah dengan dibajak, kemudian karena tanah di sini Ph dan unsur haranya dibawah normal maka disarankan menggunakan pupuk organik cair dan pupuk organik padat,” ungkapnya.

Kemudian, sambungnya, pupuk padat dibutuhkan enam sampai tujuh ton untuk satu hektare lahan dalam sekali musim tanam. “Sementara, untuk pupuk cair membutuhkan 200 liter dalam sekali musim tanam,” lanjutnya.

Ia juga menyebutkan sebelum adanya Sekolah Lapang, selama 25 hari mereka hanya mendapat hasil tujuh sampai delapan kuintal, namun setelah adanya Sekolah Lapang, mengalami peningkatkan 4 persen.

“Dulu dalam satu hektare, kita hanya dapat 5,6 ton. Sekarang, setelah adanya Sekolah Lapang ini mencapai 11 ton bahkan ada yang dapat 12 ton lebih,” ucapnya.

Diakhir pembicaraannya, Paozi menyampaikan perasaannya terkait partisipasi mahasiswa KKN dalam program SLP tersebut.

“Alhamdulillah ada kunjungan dari adik-adik KKN yang ingin menyalurkan pengetahuan yang didapatkan di bangku kuliah sehingga kita bisa tukar tambah ilmu masing-masing,” tandasnya.

Program tersebut nampaknya dihadiri oleh sekitar 40 orang anggota petani. “Namun karena pandemi jadi anggotanya dibatasi menjadi 25 orang saja,” tutupnya.(red)

About Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published.