Home / Beritakini / Mare Madak, Camping Tradisional Suku Sasak, Potensi Wisata Yang Terabaikan

Mare Madak, Camping Tradisional Suku Sasak, Potensi Wisata Yang Terabaikan

BERITAKINI talentafmnews.com – Mare Madak, camping tradisi ala suku sasak, bisa jadi adalah potensi wisata NTB yang terabaikan.

Mare Madak adalah budaya leluhur suku sasak yang dilakukan oleh warga desa Sade Kecamatan Pujut Lombok Tengah, dengan cara berkemah disepanjang Pantai Kuta Lombok Tengah.

Pemandangan itu, akan anda saksikan sejak beberapa hari lalu. Ratusan kemah tradisional berdiri disepanjang pantai kuta Pujut Lombok Tengah NTB.

Salah seorang warga, Inaq Riam 45 tahun kepada talenta fm, sabtu 2/10/2021 saat sedang mengikuti kegiatan tersebut menuturkan, mare madak dilaksanakan sekitar 4-6 hari di Pantai Kuta.

“Setiap tahun kita seperti ini, semua isi dapur kita bawa. Menantu, anak cucu semua harus ikut dan menginap disini,”Tuturnya.

Saat pagi-pagi tiba, semua keluarga laki-laki turun ke laut menangkap ikan, sementara yang perempuan menunggu ditenda dan bersiap untuk mengolahnya jadi lauk untuk disantap saat berkemah tersebut.

“Kita tidur dan makan serta ibadah disini. Ada makna yang mendalam pada kegiatan ini dan yang tahu secara mendalam para sesepuh,”Katanya.

Warga lainya, Amaq Semu 50 tahun secara terpisah mengatakan,  sejauh ini tidak ada sentuhan tangan pemerintah atas kegiatan yang selalu dilalsanakan warga tersebut.

“Kalau pemerintah desa iya, selalu menggerakkan kami untuk senantiasa melestarikan budaya leluhur ini,”ungkapnya.

Amaq Semu tak yakin, sepuluh atau duapuluh tahun kedepan, budaya berupa camping tradisional ala suku sasak itu akan bisa bertahan.

“Entah kenapa potensi wisata ini, belum dilirik oleh pemerintah. Padahal lomba hias perahu, lomba dayung tradisional, adalah rangkaian kegiatan Mare Madak ini,”ungkap Amaq Semu.

Di sisi lain, sejumlah lembaga masyarakat di libgkar kawasan seperti Solidaritas Warga Inter Mandalika (SWIM) berjuang memperjelas status Pantai Kuta Mandalika.

“Dulu warga begitu lepas dan bebas melaksanakan budaya leluhur di Pantai ini,”kata Ketua SWIM Lalu Alamin ditemui ditempat terpisah.

Namun kini semua berubah, rangkaian kegiatan leluhur Madak Mare seperti Ngapung dan lainya jadi terhalang.

“Pantai Kuta hingga Pantai Senek, kini terasa telah seperti jadi milik orang lain, bukan milik masyarakat lagi,”tutup Lalu Alamin. (tim)

About Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published.