Home / Beritakini / Pada Kasus UTD di Loteng, 2700 Kantong Darah Berubah Jadi Ayam Taliwang?

Pada Kasus UTD di Loteng, 2700 Kantong Darah Berubah Jadi Ayam Taliwang?

BERITAKINI talentafmnews.com – Pada kasus BLUD RSUD Lombok Tengah (Loteng) yang terkait dengan Unit Transfusi Darah (UTD), disebutkan ada sebanyak 2700 Kantog Darah yang diduga kuat syarat dengan pungli.

Demikian diungkap Ketua Umum (Ketum) LSM Lidik NTB, Sahabudin SE pada sabtu 18/6/2022 kepada Talenta FM via WA.

Ketika masyarakat membutuhkan darah tersebut dengan menggunakan BPJS, maka semestinya darah tersebut diberikan kepada pasien RSUD secara gratis alias tanpa biaya.

Namun nyatanya, selama ini kantong-kantong darah tersebut diduga tetap dibayar oleh pasien BPJS.

Hal itu lanjut Sahabudin sesuai dengan apa yang disampaikan Pengacara Dr. Muzakir Langkir pada sejumlah media dan diungkap juga ke penyidik yang ditugaskan untuk melakukan penyidikan atas kasus tersebut.

Namun yang membingungkan lanjut Sahabudin, belakangan ini pihak Kejari Loteng seperti diungkap pengacara Dr.Langkir,  justeru sibuk dengan dokumen-dokumen kaitanya dengan makan minun pada UPT UTD RSUD Praya yang hanya setidaknya dilakukan sebulan sekali.

“Membingungkan dan sekaligus membagongkan, 2700 kantong darah yang diduga besar punglinya miliaran, kok malah Kejari habis waktu sibuk periksa dokumen ayam taliwang,”ujar Citung sapaan akrab pria gondrong ini.

Untuk itu tegas Citung, apabila dalam waktu dekat ini Kejari Loteng tidak memanggil Kepala UPTD UTD,  maka pihaknya akan membuat petisi di Kejati NTB soal ketidak percayaan kepada Kejari alias Kepala Kejaksaan Negeri Loteng,  Fadil Regan.

Kasi Pidsus Kejari Loteng Bhrata Hari Putra SH dalam sebuah kesempatan baru-baru ini menegaskan,  Kejari komitmen menangani seluruh kasus yang masuk ke Kejari.

“Saya tegaskan kami komit terus. Dan lebih baik tidak usah berkomitmen kapan waktu perkara ini selesai, Artinya, percayakan ke kami saja, dan mohon bersabar,” pinta Bharata.

Mau menjadi atensi publik atau tidak kata Bharata,  kasus itu harus dituntaskan jika mencukupi untuk ditindaklanjuti hingga persidangan.

“Jika lambat penuntasannya, mohon dimaklumi. Kami di Kejari ini SDM-nya tidak banyak. Di satu sisi, ada banyak kasus yang masuk untuk diungkap, wajar proses lamban,” pungkas Bharata.

About Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published.